Bagi santri yang tinggal jauh dari orang tua, pengeluaran sekecil apa pun terasa di dompet. Bagi santri putri, pembalut menjadi kebutuhan bulanan yang tidak dapat dihindari. Itulah salah satu alasan Dina Kamilia, santri Pesantren Mambaul Hikam di Jombang, Jawa Timur, memilih pembalut kain atau menspad.

“Menspad ini agak mahal, tapi bisa awet dua sampai empat tahun. Kalau pembalut sekali pakai kan tiap bulan beli, jadi boros,” tutur Dina saat ditemui di aula Pesantren Mambaul Hikam (4/8).

Untuk satu siklus menstruasi, satu pak pembalut sekali pakai biasanya berharga sekitar Rp18–25 ribu. Dengan beralih ke pembalut kain, Dina dapat menghemat ratusan ribu rupiah setiap tahun. Namun, ia harus telaten merawatnya agar tetap bersih dan awet.

“Punya saya dari kelas tujuh itu bisa sampe empat tahun, terus habis itu kaku jadi saya beli lagi. Kalau mau awet gak boleh disikat. Dialirin air nunggu darahnya habis, dikucek terus dialirin air lagi. Jemurnya harus di bawah matahari biar bakterinya mati. Pakai sabun cair atau sabun cuci piring, pokoknya pakai yang cair,” jelas Dina, yang sudah tujuh tahun menjadi santri di sana.

Di sisi lain, pembalut sekali pakai adalah sampah residu, yaitu sampah yang tidak bisa didaur ulang, tidak punya nilai ekonomi, dan tidak bisa terurai. Jika seorang perempuan menggunakan sekitar 15–25 pembalut dalam satu siklus menstruasi, jumlah sampah yang dihasilkan akan terus bertambah setiap bulan.

“Pembalut kain saya bisa sampai empat tahun. Setelah itu kaku, jadi saya beli lagi. Kalau mau awet, enggak boleh disikat. Dialiri air sampai darahnya hilang, dikucek, lalu dialiri air lagi. Jemurnya harus di bawah matahari,” jelas Dina, yang sudah tujuh tahun menjadi santri di sana.

Di Mambaul Hikam, tumpukan sampah itulah yang mendorong perubahan. Pengasuh pondok pesantren, Maftuhah Mustiqowati, mengatakan kebijakan penggunaan pembalut kain telah berjalan sejak 2019. 

“Sebelumnya, sampah pembalut menumpuk dan karena tidak dapat diurai, jadinya dibakar. Tapi ketika musim hujan tidak bisa terbakar, akhirnya bercampur dan bau. Kami merasakan seperti itu dan tobat,” ujar Maftuhah, yang biasa dipanggil Ika tersebut.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *