KOMPAS.com – Di Surabaya, Jawa Timur, berdiri sebuah masjid yang atapnya, ornamennya, dan wajah bangunannya memadukan unsur budaya Tionghoa dan Islam, yakni Masjid Muhammad Cheng Hoo.

Keunikan ini membuatnya lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia juga menjadi simbol harmonisasi budaya sekaligus daya tarik wisata religi.

Kehadiran Masjid Cheng Hoo tak lepas dari perjalanan komunitas Muslim Tionghoa di Indonesia.

Lewat masjid ini, perpaduan identitas budaya Tionghoa dengan nilai-nilai Islam yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat mendapat wujud yang bisa dilihat dan didatangi.

Pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya tidak terlepas dari peran komunitas Muslim Tionghoa. Aprillia dan Estusani (2023) menjelaskan bahwa migrasi masyarakat Tionghoa Muslim turut memengaruhi proses akulturasi budaya serta pembangunan masjid tersebut.

Masjid ini dibangun melalui peran HMY Bambang Sujanto bersama rekan-rekannya dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur.

Pembangunannya juga terinspirasi oleh Masjid Niu Jie di Beijing, China, yang menjadi salah satu rujukan dalam menghadirkan unsur arsitektur Tionghoa pada bangunan keagamaan Islam.

Nama Cheng Hoo merujuk pada Laksamana Cheng Hoo atau Zheng He, seorang pelaut Muslim asal Tiongkok yang dikenal dalam sejarah pelayaran Asia. Penggunaan nama tersebut memperkuat hubungan simbolis antara identitas Tionghoa dan tradisi Islam yang direpresentasikan melalui masjid ini.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *