
Mojokerto (beritajatim.com) – Pengangguran di Kabupaten Mojokerto pada 2025 didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto, sebanyak 62,40 persen pengangguran merupakan lulusan SMA, sedangkan pengangguran lulusan perguruan tinggi mencapai 10 persen.
Kepala BPS Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny, mencatat bahwa secara keseluruhan, pengangguran terdidik mencapai 72,40 persen dari total pengangguran pada 2025. “Kelompok tersebut mencakup angkatan kerja lulusan SMA sederajat dan perguruan tinggi,” ungkapnya, Sabtu (17/10/2026).
Besarnya proporsi penganggur terdidik tersebut menunjukkan tantangan dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Mojokerto. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kesesuaian antara kualifikasi pendidikan pencari kerja dan kebutuhan dunia usaha serta industri.
Tantangan tersebut juga tercermin dari meningkatnya persentase penganggur lulusan perguruan tinggi. Pada 2024, proporsinya tercatat sebesar 3,60 persen, kemudian meningkat menjadi 10 persen pada 2025.
“Pada 2024, proporsinya tercatat sebesar 3,60 persen, kemudian naik menjadi 10 persen pada 2025. Pengangguran terdidik dapat terjadi karena ketidaksesuaian antara lapangan pekerjaan yang tersedia dengan kualifikasi atau ekspektasi pencari kerja,” katanya.
Menurut Dwi Yuhenny, ketidaksesuaian tersebut dapat berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari persyaratan pendidikan yang ditetapkan perusahaan, jenis pekerjaan yang diinginkan, hingga besaran upah yang diharapkan pencari kerja.
Selain itu, sebagian pencari kerja dengan pendidikan tinggi cenderung lebih selektif dalam menentukan pekerjaan. Mereka mempertimbangkan kesesuaian posisi dengan latar belakang pendidikan serta kompensasi yang ditawarkan sebelum memutuskan untuk bekerja.
“Mereka dapat memilih menunggu lowongan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan harapan upah, terutama jika kebutuhan hidup sehari-hari masih dapat ditopang oleh keluarga. Sebaliknya, kelompok berpendidikan rendah cenderung menghadapi keterbatasan ekonomi yang mendorong mereka untuk segera memperoleh pekerjaan,” jelasnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber