Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyoroti kontribusi pemuda Pamekasan dalam sejarah Sumpah Pemuda 1928. Ia menyinggung peningkatan pendidikan di Madura, dengan Kabupaten Pamekasan mencatat kenaikan tertinggi jumlah siswa diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.

Khofifah menyampaikan itu dalam upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Pamekasan, Rabu (28/10/2026). Menurutnya, pemuda dari Madura turut berkontribusi dalam membangun persatuan Indonesia, jauh sebelum kemerdekaan.

Khofifah menyebut Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, pemuda asal Pamekasan, yang mengusulkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Gagasan tersebut muncul dalam perdebatan dengan Mohammad Yamin yang mengusulkan bahasa Melayu.

“Tabrani harus melakukan diskusi dan debat panjang dengan Mohammad Yamin. Yamin mengusulkan bahasa Melayu, sedangkan Tabrani mengusulkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Gagasan tersebut menjadi tonggak penting dalam pengakuan bahasa Indonesia pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,” kata Khofifah.

Selain Tabrani, Khofifah mengingatkan peran Raden Katjasungkana sebagai Wakil Ketua II pelaksanaan Kongres Pemuda II pada 1928. Keterlibatan keduanya, menurutnya, menunjukkan besarnya sumbangsih pemuda dari berbagai daerah dalam sejarah persatuan bangsa.

“Partisipasi pemuda asal Pamekasan ini luar biasa. Ini menunjukkan bahwa Indonesia yang bersatu berasal dari berbagai wilayah, termasuk Pamekasan, Madura. Semangat itu harus kita lanjutkan dengan mempersiapkan generasi muda yang unggul dan memiliki daya saing,” ujarnya.

Salah satu upaya Pemprov Jatim untuk melanjutkan semangat tersebut dilakukan melalui program Mama Mau Naik Kelas atau Madura Maju, Madura Unggul, Madura Naik Kelas. Program itu mendorong peningkatan mutu pendidikan dan persiapan siswa untuk memasuki perguruan tinggi.

“Alhamdulillah, Jawa Timur berhasil mempertahankan capaian tinggi nasional dalam penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi maupun jalur tes selama tujuh tahun berturut-turut. Keberhasilan ini harus kita jaga melalui kerja bersama guru, keluarga, dan seluruh ekosistem pendidikan,” tutur Khofifah.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *