:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/HARGA-GABAH-Para-petani-yang-sedang-mengambil-gabah-di-lumbung.jpg)
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG – Angin segar tengah berhembus di lumbung-lumbung tani Kabupaten Jombang.
Menjelang transisi dari musim kemarau menuju musim penghujan, harga gabah di tingkat petani melonjak drastis dan nyaris menyentuh angka psikologis Rp8.000 per kilogram.
Kondisi gemilang ini praktis membuat para petani tersenyum lebar. Dibandingkan dengan musim panen pada tahun-tahun sebelumnya, capaian harga kali ini dinilai jauh lebih menguntungkan dan mendongkrak kesejahteraan mereka secara signifikan.
Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Kabupaten Jombang, M. Soleh, mengungkapkan bahwa tren harga tinggi ini tidak hanya menjadi fenomena lokal di Jombang saja. Gelombang kenaikan serupa turut melanda sejumlah daerah sentra beras tetangga.
“Di Ngawi, Caruban, dan Jombang kisarannya segitu (tinggi). Bahkan di Tuban, harganya sudah tembus sampai Rp8.600 per kilogram,” ucap M. Soleh kepada Tribunjatim.com, Selasa (3/11/2026).
Berdasarkan data di lapangan, pihak pengusaha penggilingan membeli gabah kering sawah di wilayah Jombang dan sekitarnya dengan harga sekitar Rp8.200 per kilogram.
Sementara itu, nominal yang diterima langsung oleh petani berada di kisaran Rp7.800 hingga Rp7.900 per kilogram.
Soleh menjelaskan, selisih harga tersebut wajar terjadi karena adanya perbedaan tahapan transaksi, serta alur dalam rantai perdagangan hasil panen sebelum akhirnya tiba di tempat pengolahan.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber