
Penjara Kalisosok dibangun di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels pada 1808. Selama lebih dari 200 tahun, bangunan penjara di Surabaya itu menyimpan berbagai kisah dan menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan, termasuk penahanan sejumlah tokoh pergerakan nasional.
Mengutip karya ilmiah bertajuk “Transformasi Sosial dan Budaya Kota Lama Surabaya: Perspektif Sejarah Perkotaan” yang dimuat di Jurnal Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (KONMASPI) 2026, bangunan Penjara Kalisosok bukan cuma bangunan peninggalan kolonial.
Di balik bangunan penjara yang menjadi bagian dari sejumlah warisan bangunan era kolonial itu ada cerita tentang pembatasan kebebasan serta perlawanan menjelang kemerdekaan Indonesia.
Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya dalam catatan di situs resminya menyebutkan bahwa pembangunan penjara cagar budaya ini dilakukan atas perintah Daendels pada 1 September 1808 dengan biaya mencapai 8.000 gulden.
Penjara tersebut berada di sebelah selatan Kalisosok 3, tepatnya di kawasan Werfstraat. Masyarakat Belanda mengenalnya dengan nama Werfstraat Gevangenis atau Penjara Jalan Werf. Sementara itu, masyarakat pribumi lebih akrab menyebutnya sebagai Bui atau Penjara Kalisosok.
Seiring berjalannya waktu, Penjara Kalisosok menjadi tempat penahanan berbagai kalangan. Tidak hanya masyarakat pribumi, penghuninya juga berasal dari bangsa Belanda, Eropa, Cina, dan Arab.
Pada masa pemerintahan kolonial, penjara ini digunakan untuk menahan orang-orang yang dianggap melawan kekuasaan Belanda. Sejumlah tokoh pergerakan nasional juga pernah merasakan kehidupan di balik tembok Kalisosok.
Salah satunya adalah H.O.S Tjokroaminoto. Tokoh pergerakan nasional tersebut pernah menjadi tahanan di Kalisosok. Selain itu, W.R. Soepratman juga pernah ditahan oleh Politieke Inlichtingen Dienst (PID) pada 7 Agustus 1938.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber