Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2024. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi berhasil menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Berkat kolaborasi lintas sektor melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Banyuwangi mencatatkan tingkat inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 2,69 persen pada September 2026. Capaian tersebut sekaligus menempatkan Banyuwangi sebagai daerah dengan inflasi terendah di Jawa Timur.
Angka inflasi Banyuwangi tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata Jawa Timur yang mencapai 3,33 persen maupun rata-rata nasional sebesar 3,28 persen.
Keberhasilan ini tidak lepas dari koordinasi dan kerja sama berbagai pihak dalam menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, hingga keterjangkauan harga bahan pokok di pasaran.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh pemangku kepentingan yang tergabung dalam TPID. Menurutnya, pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi dari berbagai sektor, mulai dari hulu hingga hilir.
“Ini adalah hasil kinerja superteam, kerja kolaboratif lintas sektor mulai dari hulu hingga hilir, kelancaran distribusi, hingga keterjangkauan harga di pasar. Kami sampaikan apresiasi dan terima kasih atas sinergi dan kolaborasi semua pihak dalam menjaga inflasi daerah,” kata Ipuk, Jumat (6/11/2026).
Bupati Ipuk menegaskan, capaian positif tersebut akan menjadi motivasi untuk terus memperkuat koordinasi dan meningkatkan efektivitas program pengendalian inflasi di Banyuwangi.
Menurutnya, setiap kebijakan maupun inovasi yang dijalankan harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber