:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/mataraman/foto/bank/originals/KOMODITAS-CABAI-Sumeri-Petani-cabai-d.jpg)
TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI – Kabupaten Kediri dikenal sebagai salah satu sentra produksi cabai di Jawa Timur. Namun, di balik potensi komoditas tersebut, petani masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan air, tingginya biaya produksi, hingga kebutuhan pembibitan mandiri.
Persoalan itu dirasakan petani cabai di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung. Saat kemarau berkepanjangan, mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman agar produktivitas tetap terjaga.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Aneka Makmur, Sumeri, mengatakan minimnya curah hujan membuat kebutuhan pengairan menjadi salah satu persoalan utama petani saat ini.
Desa Kebonrejo sendiri merupakan salah satu sentra penghasil cabai yang memasok kebutuhan pasar lokal hingga nasional.
“Dampaknya cukup lumayan banyak, khususnya untuk biaya air. Karena memang tidak ada hujan,” ungkap Sumeri, Kamis (5/11/2026).
Sebelumnya, petani masih mengandalkan embung sebagai salah satu sumber pengairan. Namun, kapasitas tampungan air sekitar 6.000 hingga 7.000 meter kubik ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan lahan dalam jangka panjang.
Kondisi itu membuat petani harus mencari sumber air alternatif. Sebagian memanfaatkan sumur dan sumber air lainnya, tetapi pasokannya belum mencukupi kebutuhan lahan.
Akibatnya, petani terpaksa membeli air menggunakan tangki atau tandon. Biayanya pun cukup besar.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber