
SuaraBanyuurip.com — Ketahanan energi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, perlu diperkuat melalui diversifikasi sumber energi, efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), serta penguatan sistem distribusi. Akademisi Universitas Bojonegoro (Unigoro) Fahrizal Taufiqqurrachman menilai, tantangan ketahanan energi daerah tidak hanya terletak pada kemampuan menghasilkan energi.
“Tetapi juga memastikan ketersediaannya tetap terjaga, terjangkau bagi masyarakat, dan berkelanjutan untuk mendukung aktivitas ekonomi daerah,” ungkapnya, Senin (26/10/26).
Menurut pengamatannya dari perspektif ekonomi energi, ketahanan energi Bojonegoro memiliki potensi kuat, tetapi belum tentu sepenuhnya menjamin keamanan pasokan BBM bagi masyarakat. Meskipun dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas), nyatanya ketersediaan BBM di SPBU masih bergantung pada pengolahan, alokasi, dan kelancaran distribusi.
Fahrizal mengulas, peristiwa antrean solar di sejumlah SPBU Bojonegoro pada November 2025 akibat perubahan mekanisme pengiriman berdasarkan kuota. Sementara itu pada Oktober 2026, koordinasi pengawasan stok kembali diperkuat bersama Pertamina dan pengelola SPBU.
“Oleh karena itu, ketahanan energi di Bojonegoro perlu diperkuat melalui diversifikasi sumber energi, efisiensi konsumsi BBM, dan penguatan sistem distribusi,” saran dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Unigoro.
“Tantangannya bukan sekadar menghasilkan energi, tetapi memastikan energi tersebut tersedia, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat serta kegiatan ekonomi daerah,” papar Fahrizal.
Dia melanjutkan, pemerataan manfaat energi di Bojonegoro harus dilihat dari sejauh mana kekayaan migas mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bukan sekadar dari besarnya produksi minyak dan gas. Pada 2025, penerimaan dana bagi hasil (DBH) migas Kabupaten Bojonegoro mencapai Rp1,94 Triliun, sehingga pengelolaannya menjadi sangat penting bagi pembangunan daerah.
Fahrizal menambahkan, pemerintah daerah perlu memastikan pendapatan tersebut memberikan manfaat nyata melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, infrastruktur, penciptaan lapangan kerja lokal, serta perlindungan lingkungan di wilayah penghasil migas.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber