Aminah mengatakan anaknya tidak merasakan adanya keanehan saat menyantap makanan tersebut. “Enggak kerasa bau atau asam gitu. Jadi ya langsung dihabiskan,” tuturnya.

Akibat kejadian tersebut, Aminah mengatakan anaknya mengalami trauma untuk kembali menyantap menu MBG. Terlebih, anaknya tidak pernah mengalami keracunan sebelum pondok tempatnya belajar menerima program MBG.

“Ya pasti (trauma). Kalau bisa enggak usah MBG lagi. Dulu anak saya biasa beli sendiri di kantin pondok, enggak pernah keracunan,” ujarnya.

Hal serupa dialami anak dari orang tua santri lainnya, Renni. Namun, gejala yang dialami anaknya baru muncul pada Rabu, 2 September 2026 pagi.

Renni mengatakan anaknya baru dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 10.00 WIB karena sebelumnya tidak merasakan keluhan apa pun.

“Gejalanya itu baru pagi tadi, pusing dan mual. Kemarin malah ikut bantu evakuasi teman-temannya ke rumah sakit,” kata Renni.

Menurut Renni, anaknya juga menyantap seluruh menu MBG yang disediakan, kecuali tumis sayur.

Saat ini, kondisi anaknya berangsur membaik setelah mendapatkan perawatan dan infus di rumah sakit. “Tiap anak kan beda-beda ya. Kalau anak saya hanya gejala ringan, jadi bisa pulang,” kata dia.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *