Data itu disampaikan Antiek Sugiharti Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Surabaya saat mengisi program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (4/9/2026).

“Kami saat ini, sampai dengan bulan ini kami bisa menerima sekitar 3.283 aduan. Nah, keluhan ini kemudian dari hasil outreach (penjangkauan) kami usulkan untuk pemutahiran ke pusat,” kata Antiek.

Aduan itu datang dari berbagai kanal, mulai warga yang datang langsung, laporan melalui kelurahan dan kecamatan, hingga kanal pengaduan milik Pemerintah Kota Surabaya. “Baik langsung kepada kami. Ada yang melalui kelurahan, kecamatan, ada yang melalui Hotline Bapak Wali Kota,” ujarnya.

Meski demikian, ia menjelaskan kalau setiap laporan yang masuk tidak serta-merta membuat posisi desil warga langsung berubah. Dinsos lebih dahulu melakukan pengecekan kondisi riil warga di lapangan, untuk memastikan apakah data tersebut memang tidak sesuai.

Kelurahan juga dapat melakukan pengecekan apabila menerima keluhan langsung dari masyarakat. Dalam prosesnya, verifikasi dapat melibatkan RT/RW hingga Kader Surabaya Hebat (KSH).

“Tim profil kami langsung ke lapangan, ada yang bersama dengan kelurahan, ada yang dari tim kami secara langsung. Karena kelurahan juga mendapatkan keluhan dia bisa juga melakukan secara langsung,” jelasnya.

Dari 3.283 aduan yang telah diproses itu, Kadinsos menyebut hasil pemutakhiran tidak seluruhnya membuat posisi desil warga turun. Dari angka itu, sebanyak 1.845 warga mengalami penurunan desil. Bahkan, 345 warga justru mengalami kenaikan.

“Nah itu dari total 3.283 aduan yang kami sampaikan sanggahan, yang justru naik desilnya itu 345. Yang turun desilnya ada 1.845, dan ada yang tetap itu 1.093,” ungkapnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *