Keracunan makanan umumnya identik dengan gejala seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. Namun, pada kondisi tertentu, penyakit yang bermula dari saluran pencernaan juga dapat berkaitan dengan gangguan fungsi otak.

Hal ini menjadi perhatian setelah seorang siswi asal Sumatera Utara, Febiona (16), dilaporkan mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, Febiona disebut mengalami gangguan ingatan.

Orang tua Febiona mengatakan perubahan tersebut muncul setelah sang anak sempat mengalami kejang dan kembali menjalani perawatan. Ia bahkan disebut tidak lagi mengenali keluarga maupun teman-teman sekolahnya.

Kasus tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, bagaimana kondisi yang bermula dari keracunan makanan bisa sampai berkaitan dengan gangguan ingatan?

Mengutip National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), keracunan makanan tidak serta-merta menyebabkan seseorang kehilangan ingatan. Gangguan ingatan atau kebingungan setelah mengalami penyakit akibat makanan dapat terjadi ketika kondisi tersebut berkembang menjadi komplikasi yang memengaruhi otak.

Salah satu kemungkinan berkaitan dengan dehidrasi berat. Keracunan makanan kerap disertai muntah dan diare yang dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit.

Jika kehilangan cairan berlangsung cukup berat dan tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat menjadi serius. NIDDK memasukkan perubahan kondisi mental, termasuk kebingungan, sebagai salah satu tanda bahwa seseorang dengan keracunan makanan membutuhkan pertolongan medis.

Artinya, ketika muntah dan diare berlangsung terus-menerus, persoalannya bukan hanya kehilangan cairan. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang berat dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh, termasuk fungsi otak.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *