* PT Bank CIMB Niaga Tbk sukses menggelar penutupan CIMB Niaga BPR dan BPRS Gathering 2026 di Surabaya pada Selasa (15/9/2026) dengan menghadirkan ekosistem layanan digital terpadu bagi lebih dari 150 BPR dan BPRS se-Indonesia.

* Kegiatan ini juga membedah lanskap ekonomi makro bersama Economist CIMB Niaga Mika Martumpal. Dalam analisanya, Mika memaparkan bahwa perekonomian nasional tengah menghadapi tiga tekanan global utama, yakni konflik Timur Tengah yang melonjakkan harga minyak hingga di atas 100 Dolar AS per barel dan memperbesar impor migas hingga menekan Rupiah melampaui Rp 18.000 per Dolar AS.

Surabaya (beritajatim.com) — PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) menyelenggarakan CIMB Niaga BPR dan BPRS Gathering 2026 bertema “Connecting for Future Growth, Digital Collaboration in Syariah Finance” di Surabaya pada Selasa, 15 September 2026.

Acara ini menjadi penutup dari rangkaian gathering nasional yang sebelumnya telah sukses digelar di Batam, Semarang, Bandung, Denpasar, dan Jakarta. Lebih dari 150 pimpinan dan manajemen senior Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS), serta perwakilan Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) dan Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Syariah Seluruh Indonesia (Himbarsi) turut menghadiri perhelatan tersebut.

Chief Syariah Wholesale Banking, Strategy & Finance CIMB Niaga Herwin Bustaman menjelaskan bahwa BPR dan BPRS memiliki peran strategis dalam memperluas akses layanan keuangan masyarakat di daerah. Sejalan dengan purpose CIMB Niaga, Advancing Customers & Society, CIMB Niaga berkomitmen memperkuat kolaborasi melalui penyediaan solusi perbankan terpadu.

Berbagai produk unggulan diperkenalkan untuk mendukung operasional BPR dan BPRS, meliputi integrasi sistem berbasis Application Programming Interface (API), aplikasi cash management OCTOBIZ, Corporate Debit Card, payment point online, e-Wallet OCTO Pay, QRIS Merchant, serta kerja sama solusi transaksi haji.

Selain pemaparan solusi perbankan, Economist CIMB Niaga Mika Martumpal menyampaikan ulasan mendalam mengenai tantangan ekonomi makro dan dampaknya terhadap sektor perbankan dalam sesi bertajuk “Navigating Indonesia’s Evolving Economic Landscape: Strategies for a Resilient Future”.

Mika memaparkan tiga faktor global utama yang membayangi perekonomian saat ini. Faktor pertama adalah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung lebih lama dari perkiraan. Konflik ini memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sempat menyentuh 120 Dolar AS per barel dan saat ini berada di atas 100 Dolar AS per barel, jauh melampaui asumsi APBN sebesar 70 Dolar AS per barel dengan rata-rata tahunan pada kisaran 87 hingga 90 Dolar AS per barel.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *