Surabaya (ANTARA) – Pelatih Persebaya Surabaya Bernardo Tavares menilai gol penyama kedudukan Garudayaksa FC terjadi karena timnya kurang agresif mengantisipasi skema bola mati saat kedua tim bermain imbang 1-1 pada pekan ketiga BRI Super League 2026/2027.

“Kami kebobolan melalui skema bola mati, pada tendangan sudut pendek garis pertahanan tidak naik, tetap sejajar, padahal kami perlu menyerang pemain yang membawa bola dengan lebih agresif,” kata Tavares saat konferensi pers setelah pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu.

Ia menjelaskan, Garudayaksa kemudian memanfaatkan celah tersebut dengan melepaskan umpan ke tiang jauh yang berujung gol penyama kedudukan.

Di sisi lain, ia menilai Persebaya sebenarnya memiliki peluang yang cukup untuk memenangkan pertandingan karena mencatat lebih banyak percobaan gol dan tendangan sudut.

“Menurut saya hari ini kami menciptakan cukup peluang untuk meraih tiga poin, tetapi sayangnya gagal,” ucapnya.

Peluang-peluang tersebut, kata dia, belum mampu membawa Persebaya meraih kemenangan setelah gol Alex Martins pada menit ke-85 dibalas Al Hamra Hehanussa empat menit kemudian.

Hasil tersebut membuat pelatih asal Portugal itu frustrasi karena timnya gagal mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir.

“Saya sangat frustrasi karena kami tidak bisa mengumpulkan tiga poin seperti yang kami inginkan, tetapi inilah sepak bola,” ujarnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *