Ponorogo (beritajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar program pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Ponorogo. Kegiatan tersebut melibatkan 2 program studi dari Fakultas Bahasa dan Seni UNESA. Yakni Program Studi S1 Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) serta S3 Pendidikan Seni. Pengabdian masyarakat itu dipusatkan di Rumah Budaya Harmini Parni, Desa Serag, Kecamatan Pulung, Ponorogo.

Koordinator Program Studi S1 Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni UNESA, Welly Suryandoko mengatakan, kegiatan tersebut dikemas dalam sejumlah pelatihan seni dan keterampilan. Ada 4 kelompok yang memberikan workshop kepada masyarakat. Pelatihan itu meliputi kriya dan keterampilan, pantomim, tari, hingga karawitan. Seluruh kegiatan berlangsung selama 2 hari dengan melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.

“Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, ada 2 prodi. Yakni ada Prodi S1 Pendidikan Sendratasik dan Prodi S3 Pendidikan Seni dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya,” kata Welly, Selasa (1/9/2026).

Dalam pelatihan kriya, peserta diajak membuat berbagai kerajinan tangan dan belajar membatik. Sementara pelatihan pantomim diberikan kepada anak-anak sekolah dasar. Ada pula pelatihan tari yang melibatkan pelajar SD hingga SMP. Sedangkan pelatihan karawitan diikuti anak-anak sekolah dasar dan kalangan ibu-ibu.

Welly mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan dosen sebagai pelatih. Mahasiswa UNESA juga ikut terlibat langsung dalam mendampingi masyarakat selama pelatihan. Peserta berasal dari lingkungan sekitar Rumah Budaya Harmini Parni. Anak-anak, ibu-ibu, hingga masyarakat umum turut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

“Ini dikemas dalam satu event besar bekerja sama dengan mitra utama kita, Rumah Budaya Harmini Parni, Desa Serag. Jadi, ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak terlibat sebagai peserta pelatihan, juga pengisi acara,” ungkapnya.

Sebanyak 29 orang dari UNESA diterjunkan dalam program pengabdian masyarakat ini. Mereka terbagi dalam 4 kelompok sesuai bidang pelatihan yang diberikan. Kehadiran mahasiswa turut memperkuat proses pendampingan kepada peserta. Kegiatan itu juga menjadi ruang interaksi antara akademisi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi seni lokal.

Menariknya, Welly mengaku tidak menemukan kesulitan berarti saat memberikan pelatihan kepada masyarakat Ponorogo. Sebelum kegiatan berlangsung, tim UNESA terlebih dahulu melakukan observasi dan berdiskusi dengan mitra. Hasilnya, mereka menemukan karakter masyarakat yang memiliki kedekatan kuat dengan kesenian. Terutama seni tradisional yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Ponorogo.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *