
Pamekasan (beritajatim.com) – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) guna memperkuat gerakan literasi masyarakat di tengah perubahan pola membaca akibat perkembangan teknologi digital.
Penandatanganan kerjasama tersebut dilakukan di sela kegiatan Dialog Kepustakaan di Aula Perpustakaan M Tabrani Pamekasan, Jl Jokotole Nomor 55 Pamekasan, Selasa (15/9/2026). Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kunjung Perpustakaan.
Ketua PWI Kabupaten Pamekasan, Hairul Anam mengatakan kerjasama tersebut menjadi langkah kolaboratif untuk menyesuaikan gerakan literasi dengan kebiasaan masyarakat yang semakin bergantung pada perangkat digital.
Menurutnya, keberadaan perpustakaan tetap memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban, meski cara masyarakat mengakses bahan bacaan telah berubah. “Perpustakaan adalah ruh peradaban dunia. Peradaban dunia tercipta melalui kemajuan perpustakaannya,” kata Hairul Anam.
Pihaknya menilai ukuran literasi masyarakat saat ini tidak semata-mata dilihat dari jumlah kunjungan ke gedung perpustakaan. Perkembangan teknologi memungkinkan masyarakat membaca buku, artikel, dan berbagai bahan informasi melalui gawai.
“Konteks saat ini sudah bukan kunjungan, sekarang orang tidak ke pasar tetap bisa belanja. Orang tidak ke perpustakaan, tapi tetap bisa baca lewat gawai,” ungkap pria yang tercatat sebagai Asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers.
Karena itu, pihaknya mendorong agar gerakan literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca, tetapi masyarakat juga perlu didorong untuk menghasilkan karya tulis dan konten yang memberikan nilai edukasi. “Artinya tinggal kita memancing dengan produksi tulis-menulis, apalagi transformasi pemikiran sekarang banyak melalui audio-visual,” tegas Anam.
“Perobahan pola konsumsi informasi ini juga harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memilih dan memanfaatkan konten digital secara bijak. Peran orang tua dinilai penting, terutama dalam mengawasi sekaligus mengarahkan anak-anak ketika menggunakan perangkat digital. Jangan sampai gawai hanya digunakan untuk hiburan, tapi harus diarahkan menjadi sarana belajar, membaca, dan menghasilkan sesuatu yang positif,” imbuhnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber