
Bondowoso (beritajatim.com) – Volume produksi makanan yang mencapai hampir 3.000 porsi setiap hari membuat pengelolaan limbah dapur menjadi salah satu perhatian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso Badean 2.
Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, SPPG Badean 2 menerapkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan sejumlah tahapan pengolahan. Perawatan dilakukan secara rutin, terutama pada bagian penyaring dan perangkap lemak yang paling banyak menampung sisa aktivitas dapur.
Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari, menjelaskan sistem IPAL yang digunakan terdiri atas grease trap atau perangkap lemak, bak kontrol atau ekualisasi, biofilter anaerob-aerob, bak sedimentasi atau filtrasi, serta bak outlet atau resapan.
Aliran limbah menggunakan sistem gravitasi melalui pipa tertutup dan kedap air. Dengan sistem tersebut, limbah dari aktivitas dapur tidak bercampur dengan air hujan.
“Grease trap (perangkap lemak) kemudian bak kontrol atau ekualisasi, biofilter anaerob-aerob, bak sedimentasi atau filtrasi, bak outlet atau resapan,” kata Yulia, Sabtu (19/9/2026).
Pengolahan dimulai dari saringan kasar untuk menangkap sisa nasi, tulang, plastik dan material lain yang terbawa dari aktivitas dapur. Setelah itu, air limbah masuk ke grease trap untuk memisahkan minyak dan lemak.
Dari grease trap, limbah masuk ke bak ekualisasi untuk menyeragamkan debit. Berikutnya, proses pengolahan berlangsung di biofilter anaerob dengan bantuan bakteri tanpa oksigen yang tumbuh sebagai biofilm pada media.
Tahap selanjutnya adalah biofilter aerob. Pada bagian ini, diffuser menghasilkan gelembung udara secara merata untuk mendukung proses penguraian. Air kemudian masuk ke tahap sedimentasi dan filtrasi akhir untuk mengendapkan padatan halus sekaligus menjernihkan air sebelum menuju outlet.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber