Blitar (beritajatim.com) – Udara sejuk kawasan lereng pegunungan di Desa Boro, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, terasa syahdu pada Rabu (21/10/2026). Di tengah bentangan alam yang asri, senandung doa menyatu dalam momen bersejarah peresmian Candi Puthuk Ayem di Vihara Buddha Sasana Jaya.

Momentum bersejarah tersebut dirangkai secara beriringan dengan Peringatan 50 Tahun (Golden Jubilee) pengabdian Sangha Theravada Indonesia (STI) di tanah air.

Secara filosofis, nama Puthuk Ayem berakar dari Bahasa Jawa. Kata puthuk bermakna bukit kecil atau tempat yang tinggi, sedangkan ayem melambangkan ketenangan batin yang mendalam. Bangunan rumah ibadah bermotif candi ini didirikan sebagai simbol benteng spiritualitas, ruang kontemplasi, sekaligus oase kedamaian bagi warga dan para peziarah.

Hadir langsung memimpin prosesi peresmian, Bupati Blitar Rijanto menegaskan pentingnya kehadiran simbol-simbol spiritual keagamaan guna merawat nilai keberagaman di tengah dinamika sosial masyarakat.

“Nama Puthuk Ayem membawa pesan mendalam. Keberadaan candi ini bukan hanya tempat ritual ibadah bagi umat Buddha, tetapi juga menjadi ruang menumbuhkan kedamaian batin serta memperkuat karakter kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Bupati Rijanto, Kamis (22/10/2026).

Peresmian sarana ibadah ini terasa kian istimewa karena bertepatan dengan perayaan setengah abad (1976–2026) perjalanan Sangha Theravada Indonesia.

Mengusung tema ‘Lima Dasawarsa Pengabdian Sangha, Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih bagi Negeri melalui Candi Puthuk Ayem’, jajaran Sanghapamokkha, Sanghanayaka, hingga para Bhikkhu STI hadir merayakan perjalanan panjang pembimbingan moral umat.

Bupati Rijanto mengapresiasi dedikasi lima dekade para Bhikkhu Sangha yang konsisten menyebarkan ajaran Metta (cinta kasih universal) dan Karuna (kasih sayang tanpa sekat).

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *